Just another cah Tuban site

Lebaran, pakai baju baru??

Idul Fitri sering ditandai dengan adanya ”mudik (pulang kampung)” yang notabene hanya ada di Indonesia. Selain itu, hari raya Idul Fitri juga kerap ditandai dengan hampir 90% mereka memakai sesuatu yang baru, mulai dari pakaian baru, sepatu baru, sepeda baru, atau bahkan mobil baru. Kalau sudah demikian, bagaimana sebenarnya makna dari Idul Fitri itu sendiri. Apakah Idul Fitri cukup ditandai dengan sesuatu yang baru, atau dengan mudik untuk bersilaturrahim kepada sanak saudara dan kerabat?.

“Diceritakan, sesungguhnya Umar bin Khattab ra pernah melihat putranya memakai baju yang usang pada hari raya, lalu Umar menangis, sehingga putranya bertanya, “Apa yang membuat ayah menangis?”.Umar berkata, “Hai anakku, aku khawatir kalau hatimu menjadi susah di hari raya ini, ketika teman-temanmu melihatmu memakai baju usang itu”.

Putranya berkata, “sesungguhnya hanya hati orang yang kehilangan ridha Allah yang merasa bersedih atau orang yang berani kepada Ibu atau bapaknya. Dan sesungguhnya aku benar-benar mengharap ridha Allah berkat ridha ayah padaku”.

Umar kemudian mendekap putranya sambil menangis tersedu-sedu serta mendoakan anaknya mudah-mudahan Allah meridhainya”.

Dari cerita di atas dapat disimpulkan bahwa sesuatu yang baru bukan suatu hal yang prinsipil. Yang paling utama dari Hari Raya Idul Fitri adalah Ridla Allah, bahwa Allah akan melimpahkan rahmat dan ridlonya kepada orang-orang yang melaksanakan ibadah puasa sepenuhnya pada bulan ramadhan.

Menurut Nurkholis Madjid Dengan berpuasa secara baik dan benar, maka pada saat hari Idul Fitri dengan sendirinya orang beriman akan menyandang predikat fitri, artinya ia kembali kepada kesucian nurani, atau yang alamiah— sebab menurut alamiahnya (by nature) manusia itu mencintai kebajikan dan kebenaran. Setelah setahun hati nurani tertutup oleh kepentingan diri, vested interest,kepicikan hati, kesempitan diri, dengan menjalankan ibadah puasa secara benar—tidak hanya menahan makan, minum serta semua yang dapat membatalkan puasa seperti dalam pemahaman fiqih formal namun juga mampu mengendalikan dari godaan dan dorongan hawa nafsu—maka hati nurani akan menjadi baik kembali. Kembali memiliki kepekaan ruhani terhadap aturan moral atau akhlak.

Dari Wahab bin Munabbih ra, “sesungguhnya iblis memekik histeris pada setiap hari raya, lalu anak buah iblis berkumpul mengerumuninya dan bertanya : Hai tuan kami, apakah yang menyebabkan kemarahan anda? Iblis berkata : sesungguhnya Allah swt benar-benar telah mengampuni ummat Muhammad saw pada hari ini. Maka kamu sekalian harus berusaha keras dengan segala macam kelezatan dan kesenangan nafsu”

merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idul fitri ajang tasyakur karena Allah telah melimpahkan RahmatNya kepada kita semua pada hari itu, mengampuni segala dosa kita sehingga kita menjadi Insan yang Fitri.

Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s