Just another cah Tuban site

Puasa membentuk akhlak mulia

Ciri-ciri ajaran Islam yang sangat menonjol adalah adanya kaitan yang erat antara dimensi batin (vertikal) dengan dimensi lahiriah, berupa kewajiban konsekuensial atau ikutan (horizontal). Wujud dimensi konsekuensial adalah melakukan amal saleh atau kerja sosial dan akhlâq alkarîmah. Rasulullah Saw. pun bersabda bahwa misi utama kenabiannya berkaitan erat secara organik dengan misi perbaikan akhlak atau budi pekerti luhur. Rasulullah Saw. Dalam sebuah riwayat menegaskan, “Sesungguhnya kami diutus untuk melakukan perbaikan akhlak.

Dalam kaitan itu, ibadah puasa berkaitan erat sekali dengan pelatihan atau pembinaan akhlak mulia (budi pekerti luhur). Nilai atau pesan yang akan dicapai dari pelaksanaan ibadah puasa dengan jelas dapat diketahui bila seseorang berpuasa, namun tidak dapat mengendalikan diri dari sifat-sifat buruk dan tercela, seperti berkata kotor atau perkataan yang menyakitkan, serta berdusta. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa berpuasa, tetapi tidak dapat meninggalkan perkataan kotor dan melakukannya, maka tidak ada kepentingan dengan meninggalkan makan dan minumnya.

Karena itu perlu diingat bahwa tidaklah dibenarkan orang beriman beranggapan dirinya suci atau bahkan merasa paling suci, paling baik—dalam ungkapan keseharian, merasa sok suci. Melalui sikap takwanya, orang beriman—yakni memiliki kesadaran ketuhanan, berkeyakinan bahwa sesungguhnya Allah Swt. adalah Maha Mengetahui—sehingga dirinya tidak mungkin akan memiliki sikap semacam itu.

Ramadlan adalah bulan suci dan pensucian, yang merupakan salah satu wujud kasih Allah kepada umat manusia. Puasa Ramadlan disyariatkan untuk memberi kesempatan manusia membersihkan diri dari kegelapan dosa (zhulm, kezaliman), sebab dosa itu mengotori hati yang terang (nûrânî) menjadi gelap (zhulmânî). Dalam keadaan berhati zulmani itu, manusia terseret keluar dari kebahagiaan (kesucian asal, fithrah), dan tercampak ke dalam kesengsaraan, kegelapan dosa.

Ramadlan memberi kesempatan manusia berlatih menahan diri dari kejatuhan ke lembah nafsu, melanggar larangan Tuhan. Pelanggaran itu telah dilakukan oleh kakek-neneknya, Adam dan Hawa, yang membuat keduanya jatuh dari martabat kemanusiaan suci, dan terusir dari Surga. Sekalipun kedua insan pertama itu kemudian diampuni Tuhan karena teguh menjalankan “kalimat-kalimat”-Nya, namun mereka menurunkan anak cucu yang kesucian primordialnya selalu terancam rusak oleh keserakahan hawa nafsunya.

Karena itu, setiap orang berpotensi untuk jatuh martabatnya. Latihan menahan diri (shiyâm, pawasa) dalam bulan Ramadlan bersumbu pada latihan untuk sepenuhnya menghayati kehadiran Tuhan dalam hidupnya yang paling pribadi (private). Dalam semangat makna “Allah beserta kita” (innallâhama‘anâ atau immanuel), manusia menemukan kesucian asalnya yang hilang, dan kembali ke fithrah (‘Îd Al-Fithr atau “Idul Fitri”). Ia pun terlahir lagi dalam kesucian, pulang ke asal dalam kebahagiaan. Atas hidayah Allah, manusia mendapat kebahagiaan primordialnya, maka ia bersyukur kepada-Nya, dengan mengagungkan dan memuji-Nya (takbîr dan tahmîd).

Kesucian manusia yang fitri adalah kesucian pribadi, namun berkonsekuensi sosial. Kesucian pribadi tidak bermakna apa-apa tanpa sikap suci kepada sesama manusia. Budaya “rumah terbuka” (open house) dalam Lebaran adalah konsekuensi adanya “hati terbuka” (open heart) kepada sesama. Inilah salah satu wujud “rahmat li ‘l-‘âlamîn”, kasih Allah bagi sekalian alam, tujuan universal kerasulan Nabi Muhammad Saw.

dari Ensiklopedia Nurcholis Madjid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s