Just another cah Tuban site

IMBUH

Pada masyarakat Jawa tradisional, kegiatan belanja untuk keperluan makan sehari-hari dilakukan setiap hari. Ibu rumah tangga diharapkan melakukan kegiatan berbelanja di pagi hari sebelum kegiatan-kegiatan lain dimulai. Berbelanja di pagi hari seakan menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga. Semakin pagi dia berbelanja, semakin tinggi pula rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga. Karena itu, jika seorang ibu rumah tangga melakukan kegiatan berbelanja sewaktu kegiatan sehari-hari masyarakat sudah mulai sibuk, dianggap kurang bertanggung jawab. Jika terlambat berbelanja, dia akan terlambat menyiapkan hidangan sarapan (makan pagi) bagi keluarganya yang sudah siap melakukan berbagai kegiatan.

Perkembangan dunia usaha – yang mengembangkan usaha perdagangan di pasar swalayan – telah mengubah tradisi kegiatan berbelanja. Tidak semua orang melakukan kegiatan berbelanja setiap hari. Dengan perkembangan situasi seperti itu, beberapa ukuran norma-norma kehidupan keluarga yang semula dianggap penting menjadi tidak berlaku. Seorang ibu rumah tangga yang tidak pergi ke pasar pagi-pagi, tidak lagi dianggap sebagai perempuan pemalas.

Kebiasaan berbelanja pagi-pagi sebenarnya bukan hanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Suasana di pasar dalam kegiatan jual-beli di pagi hari ini rupanya memberi nuansa pergaulan tersendiri bagi ibu-ibu rumah tangga. Hubungan antara pembeli dan penjual biasanya sangat akrab dan saling menghargai. Setiap pedagang mempunyai pelanggan yang dia kenal dengan baik dan selalu berbelanja kepadanya.

Yang menarik dalam kegiatan berbelanja ini adalah kebiasaan tawar-menawar. Walaupun pembeli dan pedagang telah saling mengenal secara akrab, tawar menawar tetap dilakukan. Pedagang tidak pernah mematok harga pas. Kegiatan tawar menawar inilah yang rupanya mempererat hubungan antara pedagang dan pelanggannya. Anehnya, setelah harga disepakati oleh kedua belah pihak, si pembeli masih juga minta imbuh ‘tambahan’ sedikit dari barang yang dibelinya dan si pedagang pun dengan senang hati memberikannya.

Dikutip dari buku ‘Wiwara’ hal. 43

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s